Ulasan mengenai kompetisi Neurobytes 2015 International Annual Medical Quiz
Sayang sekali tim Airlangga pulang ke Indonesia dengan rasa kecewa.
Kami kalah karena kesalahan kunci jawaban dari pertanyaan
"Apakah vektor dari demam kuning?"
Saat itu, jawaban kami adalah "Mosquito" yang berarti Nyamuk. Jika diperdalam adalah nyamuk dengan genus Aedes. InsyaAllah berdasarakan referensi dari Internet, journal, serta apa yang diajarkan kepada kami saat perkuliahan, jawabannya adalah benar.
Namun, panitia Neurobytes 2015 MMMC Malaka Malaysia saat itu meng-klaim bahwa jawabannya adalah "Monkey" yang berarti Monyet/Kera. Vektor demam kuning adalah Monyet (????). Berdasarkan referensi kedokteran yang ada, Monyet merupakan host selain manusia. Perbedaan antara host-vector disini menurut saya merupakan kesalahan yang fatal.
Karena tidak sesuai dengan referensi. Akhirnya diakhir babak semifinal, istirahat sebelum final dimulai, kami memutuskan untuk berbicara dengan panitia. Karena sebelum lomba d mulai, panitia sudah mengumumkan jika ada hal yang diragukan dari jawaban mereka, mereka akan menunjukkan referensi jawaban mereka. Karena tidak ingin gegabah, kami sudah menyiapkan referensi dengan browsing dan jurnal yang kami punya. Terhitung sudah 3x kami mencoba untuk berbicara dengan panitia, namun kami tidak mendapatkan feedback apapun. Keempat kalinya, kami memutuskan untuk berbicara langsung dengan Ketua Panitia, beliau adalah seorang Dokter spesialis. Harapan saya, karena babak Final belum dimulai. Kami mendapatkan kejelasan tentang jawaban dari pertanyaan yang merugikan kami tersebut dan mengkompensasi kerugian kami, karena seharusnya dengan pertanyaan itu benar Tim Airlangga yang lolos ke babak selanjutnya. Sayang sekali, feedback yang kami dapat tidak seperti yang kami harapkan. Beliau berkata bahwa, mengakui JAWABAN MEREKA SALAH, namun mereka TIDAK BISA MELAKUKAN APA-APA TAHUN INI. Dengan alasan, tidak bisa memasukan 1 tim lagi di babak final karena bel tidak cukup (Padahal kesalahan dapat d perbaiki dengan mengulang rounds sebelumnya, yaitu tim Airlangga melawan tim Universitas Muslim Indonesia A, dari sana dapat di ambil pemenangnya sebagai finalist. Karena kesalahan bukan berada di final, namun dibabak sebelumnya). Selain itu, Beliau juga menyampaikan sebagai gantinya panitia Neurobytes akan mengganti dengan MEMBAYAR UANG PENDAFTARAN dan AKOMODASI jika Airlangga mengikuti lagi tahun depan.
Jujur, pribadi, saya sangat kecewa sekali. Kami sudah datang jauh-jauh dari Indonesia, mengorbankan waktu kami untuk belajar materi Neurobytes yang terdiri dari materi preklinik, klinik, bedah, bahkan sejarah, belum lagi kami harus menunda ujian kami karena dilaksanakan saat hari keberangkatan untuk mengikuti lomba Di Malaka Malaysia, namun kami tidak mendapatkan perlakuan yang adil (saat lomba) seperti tim-tim lainnya. Seharusnya semua tim diperlakukan secara adil dan profesional. Dan harus menjunjung tinggi kebenaran dari ilmu kedokteran tersebut. Saya rasa mahasiswa di MMMC Malaysia tahu mana yang benar dan salah, namun saat terjadi kesalahan kunci jawaban, tidak ada satupun panitia (yang kebayanyakan adalah mahasiswa) yang PEKA terhadap kesalahan itu. Dan meskipun keputusan terakhir berada di Guru-Guru di MMMC (yang notabenenya adalah DOKTER), kata salah satu panitia, seharusnya Guru-guru besar disana berlaku adil, profesional, dan memperjuangkan hak-hak semua peserta yang sudah semestinya. Karena semua peserta telah memenuhi syarat yang sudah semestinya di ajukan oleh panitia. Semua orang tahu bahwa DOKTER ADALAH ORANG YANG BERPENDIDIKAN. Kesalahan tersebut tidak bisa digantikan atau dibayar dengan ke-GRATIS-an yang di tawarkan tahun depan. KAMI BISA BERANGKAT SENDIRI TANPA BANTUAN DANA DARI MMMC, YANG PENTING KAMI DIPERLAKUKAN SECARA ADIL.
Walaupun berat hati, akhirnya kami harus memendam kekecewaan kami. Dan kami harus belajar untuk menerima keputusan tersebut. Mungkin, ini merupakan evaluasi dan cambuk bagi kami, untuk lebih selektif lagi mengikuti kompetisi. Dan semoga ulasan ini bisa menjadi referensi dan pertimbangan teman-teman untuk mengikuti kompetisi apapun selanjutnya.
Pelajaran yang bisa saya petik adalah: Jangan menunda untuk memperjuangkan dan melakukan apa yang kamu anggap benar. Karena dengan menunda sesuatu yang kamu anggap benar, itu merupakan suatu ketidak-benaran (kesalahan).
Keep, Excellence with Morality!












